Aku dan Ash
“Kau
membunuhnya.” Kataku di sela-sela kesibukanku membersihkan wajahnya.
“Riani
menggodaku.Dia mencoba memisahan kita.” Jawabnya.
“Tapi Riani
temanku.Dan,tidak menjadi masalah selama kau tidak tergoda.” Jawabku.
“Teman
macam apa yang ingin merebut kekasih sahabatnya sendiri ?” Tanyanya.
“Ash,tolong
hentikan kebiasaanmu.Aku takut.”
“Kenapa
? apa kau sudah tidak tahan menjadi kekasihku ?”
“Tidak,bukan
seperti itu.” Jawabku sambil melanjutkan membersihkan sudut bibirnya.Tapi Ash
mencekal pergelangan tanganku dan merebut kapas yang kupegang.
“Hentikan,aku
bisa melakukannya sendiri.” Lalu Ash pergi menuju kamar.Meninggalkanku yang
hanya bisa melihat punggungnya saat ia berlalu.
Entah
apa yang ia lakukan di dalam kamar.Tapi beberapa saat kemudian terjadi
konsleting sehingga listrik langsung padam dan aku mendengar bunyi pecahan kaca
yang cukup keras dari dalam kamar.Aku langsung berlari dan mendapati Ash ada
disana.
Ia
berdiri menghadap cermin yang sudah pecah menjadi ratusan bagian. Kepalanya
tertunduk.Dari sini aku hanya bisa menatap punggungnya dengan cemas.Yang kutahu
hanyalah cermin itu pasti pecah karena ulah Ash.
“Kau
benar,aku hanyalah seorang monster.Sudah sepantasnya kau takut padaku.Tapi
bagaimana lagi ? membunuh adalah hidupku.Jadi untuk mengakhiri semua
pembunuhan-pembunuhan itu,hidupku juga harus berakhir.” Lalu ia berbalik.Di
pipinya ada sebuah luka kecil yang mengeluarkan darah.Aku hanya bisa tercengang
menatapnya.
“Luka
ini ? ini hanya permulaan.Mungkin aku harus membuat satu lagi di sini.Selamat
tinggal,aku tidak akan mengganggumu lagi.” JawabAsh dengan mengeluarkan
senyuman gilanya.Ash mendongakkan kepalanya dan mengarahkan pecahan cermin itu
tepat ke urat nadinya.
Akupun
berlari menghampirinya karena jaraknya yang cukup jauh dariku.
“Hentikan
!!!” Teriakku panik.
Aku
meraih tangannya.Tapi mengingat sifat Ash yang keras kepala sudah pasti ia
tidak mau begitu saja mengurungkan niatnya.Aku tidak akan menyerah.Aku harus
segera mengambil serpihan kaca itu dari genggaman tangannya atau aku akan
kehilangan Ash untuk selamanya.
“Aku
tidak ingin mengganggumu lagi.” Kata Ash terputus-putus.
Astaga,kenapa
ini terasa begitu sulit ?
Aku
hanya harus merebut benda tajam itu dari tangannya dan semua akan
berakhir.Hanya semudah itu.
Badannya
yang jauh lebih besar dariku ditambah dengan kekuatannya sebagai seorang pria
membuatku kewalahan sehingga kami terpaksa harus bergelut cukup lama.
Dan
akhirnya aku mendengar pecahan kaca itu jatuh terlempar dari tangannya.
Tapi
belum berhenti sampai di situ.Lengan kekar Ash mengenai badanku dan aku
langsung terlempar dan bagian belakang kepalaku menghantam salah satu sisi
ranjang.Suasana berubah menjadi hening walaupun tidak mengurangi ketegangannya
sedikitpun.Kami saling bertatapan di dalam keheningan.Yang terdengar hanya
suara nafas memburu yang aku sendiri tidak tau itu nafas siapa.
Sementara
di depanku,Ash masih berdiri tegak sambil menatapku dengan tatapan menghina
seakan akan matanya berkata padaku kalau aku hanyalah seorang anak kecil yang
tidak mungkin bisa menghalangi apapun yang ia inginkan.
Ash
melirik kebawah mencari-cari serpihan kaca lagi.Entah suatu kebetulan atau
memang sebuah keberuntungan.Tepat di sebelah kaki kanannya terdapat pecahan
kaca yang besarnya 3x lebih besar dari yang tadi.
“Aku
akan membuatnya lebih mudah.” Katanya sinis.
Ash
membalikkan tubuhnya dan mengangkat benda tajam itu.
Sinar
lampu dari luar masuk melalui jendela,sinarnya terkena sudut benda tajam itu dan
memantul mengenai mataku sampai aku silau dibuatnya.
Aku
menggeleng gelengkan kepalaku karena merasa sangat pusing.Tapi aku tetap
berusaha berdiri.Sebelum semuanya terlambat.Aku berusaha untuk berdiri walaupun
kepalaku terasa sangat pening.
“Terimakasih
sudah mencintaiku.”
Dadaku
menubruk punggungnya.Seketika itu juga,terdengar suara benda tajam yang
tertekan menembus lapisan kulit dan daging.Sedetik kemudian tampaknya darah
sudah mulai mengalir dari sana.Dari sebuah luka yang menganga.
Aku
memeluk Ash dari belakang dengan sangat erat.Aku meremas baju bagian
depannya.Mungkin sekarang baju itu sudah mulai terkena noda darah.
Dan
listrik akhirnya kembali menyala.Sekarang kami berdua sudah bisa melihat ada
cukup banyak darah di telapak tangan masing masing.
Darah
itu berasal dari tanganku.
Aku
mencengkeram ujung pecahan kaca yang kedua sisinya sangat tajam.Tanganku
menjadi penghalang antara benda tajam dengan perut Ash.
Darah
masih mengalir.Kami masih hanyut di dalam keheningan sampai Ash mulai membuka
pembicaraan.
“Kenapa
kau melakukannya ?” Tanya Ash.
“Aku
tidak ingin kehilanganmu.. Aku mencintaimu.” Dan aku menyandarkan kepalaku di
punggungnya.
“Jangan
pernah melakukan ini lagi.” Tambahku.
Aku merasakan
Ash mencoba memisahkan tubuhku dan tubuhnya.Lalu ia berdiri menghadapku dan
memelukku dengan erat.Di atas sana,aku merasakan Ash mengecupi rambutku.
“Maafkan
aku.” Katanya.
Lalu Ash
melepaskan bajunya.Ia merobek baju itu menjadi beberapa bagian.Lalu Ash
melilitkan robekan kain itu di telapak tanganku yang tergores kaca tadi.Matanya
menatap tajam kearah mataku seperti seorang ayah yg memarahi anaknya.Sedetik
kemudian tatapannya berubah.
Badannya
maju secepat kilat kearahku.Menempelkan bibirnya dengan bibirku dan memberikan
kecupan hangat dan singkat di sana.
Akupun
kembali memeluknya.Walaupun aku harus mengeluarkan usaha untuk meraih
pundaknya,aku tetap menyukainya karena itu sebanding dengan kehangatan yang
kudapatkan.
“Aku
mencintaimu,sangat.Mungkin kalau benda itu merenggut nyawamu,aku juga akan
melakukan hal yang sama denganmu.Aku mengatakan aku takut karena.. Aku takut
kehilanganmu..” Bisikku di telinganya.
“Maafkan
aku.Aku kejadian yang kualami di masa kecil membuatku tidak bisa mengungkapkan
rasa cinta.” Jawabnya.
Kemudian,satu
pelukan hangat kuterima dari Ash.Matanya terpejam dan wajahnya bersembunyi di
bahu kiriku.
Pandanganku
menjadi gelap dan tubuhku melemas lunglai di pelukannya..
Yang
terakhir kuingat hanya saat Ash memanggil manggil namaku.Aku berusaha untuk
tetap sadar,tapi sepertinya itu sangat sulit sampai pada akhirnya aku harus
menyerah dalam kegelapan..